Berita

Teras Queta – Menakar Akar Konflik Sudan: Politik, Sumber Daya, dan Narasi Keagamaan

I. Pembukaan

Acara dibuka dengan pengantar tentang konflik Sudan yang dimulai pada tahun 2021, dengan titik fokus di Khartoum dan wilayah-wilayah penting Sudan lainnya, di mana bentrokan bersenjata terjadi antara Tentara Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Konflik ini menimbulkan krisis kemanusiaan dan ketidakstabilan politik di wilayah tersebut.

 

II. Sejarah Konflik Sudan

  1. Fase Kolonial dan Fondasi Konflik (1899–1956)
  • Inggris dan Mesir: Menguasai Sudan melalui konsesi bersama (Anglo-Egyptian Sudan) sejak akhir abad ke-19. Mengelola wilayah Sudan secara administratif dan ekonomi, namun memperkuat perbedaan etnis dan agama.
  • Italia dan Ethiopia: Italia di wilayah Eritrea dan Ethiopia di wilayah perbatasan Sudan turut berpengaruh terhadap dinamika geopolitik. Invasi dan persaingan kolonial ini meletakkan fondasi konflik etnis, politik, dan sumber daya di Sudan.
  • Konflik historis ini menjadi dasar ketegangan internal yang bertahan hingga kemerdekaan Sudan pada 1956.
  1. Perang Saudara Sudan (1956–1989)
  • Perang saudara pecah antara pemerintah pusat di Khartoum (mayoritas Arab-Muslim) dengan wilayah selatan (mayoritas Kristen dan animis).
  • Faktor pemicu: perbedaan etnis, agama, dan kontrol sumber daya alam (minyak, emas).
  • Perang ini menelan ribuan korban dan memunculkan krisis pengungsi yang panjang.

 

III. Era Umar Al-Bashir (1989–2023)

  1. Penguasaan Politik
  • Umar Al-Bashir mengambil alih kekuasaan melalui kudeta militer pada 1989.
  • Selama masa pemerintahannya, ia bertahan dari upaya penggulingan sebanyak 6 kali, menunjukkan ketahanan politiknya meski menghadapi tekanan internal dan eksternal.
  1. Genosida dan Pelanggaran HAM
  • Bashir dikenal melakukan genosida terhadap kelompok etnis non-Arab, terutama di wilayah Darfur.
  • Tindakan ini memicu kecaman internasional dan intervensi hukum melalui Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).
  1. Konflik Modern
  • Era Bashir menandai terbentuknya konflik modern yang kompleks, melibatkan milisi lokal, politik identitas, dan persaingan sumber daya.
  • Pasca-2019, kekosongan kekuasaan membuka celah bagi konflik baru antara SAF dan RSF.

 

IV. Faktor Sosial dan Persepsi

  1. Masyarakat Sudan dikenal mudah tersulut emosi dan dapat digiring opini politik maupun sosial.
  2. Narasi Keagamaan dalam Konflik Sudan sebagai Alat Politik.
  3. Konflik Sudan bersifat kompleks dan multi-dimensi
    • Konflik antara Tentara Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) atau sebelumnya antara pusat (Khartoum) dan wilayah selatan, tidak murni masalah agama.
    • Faktor utama konflik adalah politik, kontrol sumber daya (emas, minyak), etnis, dan kekuasaan politik.
  4. Agama sering dimanfaatkan sebagai alat mobilisasi
    • Pihak-pihak yang berkonflik terkadang menggunakan narasi keagamaan untuk:
      • Mempengaruhi opini publik agar mendukung satu pihak.
      • Legitimasi politik untuk kekuasaan atau tindakan militer.

 

V. Konflik Kontemporer dan Faktor Internasional

  1. Peran Rusia
  • Grup Wagner dan perusahaan militer swasta (PMC) Rusia mendukung RSF melalui pelatihan dan logistik.
  • Dukungan ini memperpanjang konflik dan memodernisasi kemampuan militer RSF.
  1. Peran Uni Emirat Arab (UAE)
  • UAE tidak memulai atau secara langsung mengintervensi konflik Sudan untuk mengambil emas.
  • Fokus UAE muncul karena kesempatan ekonomi saat RSF, di bawah pimpinan Burhan, berada dalam kebingungan terkait penjualan emas Sudan.
  • Burhan menghadapi kesulitan dalam menjual emas karena sanksi internasional, kerentanan logistik, dan tekanan internal.
  • UAE hadir sebagai pembeli atau perantara ekonomi yang memfasilitasi transaksi emas tersebut, tanpa keterlibatan militer langsung.
  • Dengan kata lain, UAE memanfaatkan celah yang tercipta akibat kondisi internal Sudan, bukan sebagai aktor yang memicu atau memperluas konflik.

 

VI. Penutup

  • Diskusi menekankan pentingnya pemahaman historis, politik, dan sosial dalam menganalisis konflik.
  • Sebagai umat Muslim, kita sering kurang berempati terhadap konflik di negara non-Muslim seperti Ukraina atau Rwanda, seringkali hanya peduli dengan kasus2 di negara muslim, tapi acuh dengan kondisi konflik negara non- muslim

Moderator menutup acara dengan harapan: 

Meningkatnya awareness masyarakat PPMI Pakistan dan menumbuhkan empati tang luas terhadap krisis  kemanusiaan global tanpa dibatasi pada agama, etnis maupun sektarian, mengambil nilai2 Gus dur yang dijuluki “Bapak Pluralisme Indonesia” untuk menyebarkan kebaikan kepada seluruh alam tanpa memandang agama ataupun ras.

Admin

Recent Posts

Ghawari, Secercah Cahaya Terang di balik Provinsi yang Hitam

Pakistan merupakan negara multikultural dengan ragam budaya dan corak diversitas kepercayaan spiritual yang unik dengan…

2 days ago

Pakistan dan Simbol Toleransi Umat Beragama.

Pakistan merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia dengan presentasi 97% dari warga…

5 days ago

Revolusi Islam Iran dan Ikhwanul Muslimin

Beberapa tahun setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, tepatnya pada 1928, Hasan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin di…

3 weeks ago

Bagaimana Ibnu Sina Membuktikan Eksistensi jiwa secara Rasional.

Dialektika substansi manusia. sejak awal peradaban, manusia selalu memandang dirinya sendiri dengan penuh rasa keingin…

2 months ago

PPMI Pakistan Kirim Delegasi dalam International Model OIC Pakistan Summit 2025 di Islamabad

Islamabad, Pakistan — Perhimpunan Pelajar dan MahasiswaIndonesia (PPMI) Pakistan mengirimkan delegasi untukberpartisipasi dalam International MOIC…

2 months ago

Tafsir Sebagai Alat Legitimasi Perempuan

Salah satu keyakinan yang berkembang di masyarakat bahwa Siti Hawa berasal dari tulang rusuk Nabi…

2 months ago