Pashtun merupakan suku yang tersebar melintangi garis durand, memiliki pedoman hidup yang terus dipegang erat, Pashtunwali; kode etik lisan yang membawa nilai keramahtamahan dalam menghormati tamunya (red: mehmannavazi), kehormatan atau harga diri, kesetiaan, loyal dan keberanian.
Di Pakistan sendiri, kami kerap kali diundang menginap ke rumah mereka, kami dijamu layaknya keluarga yang memiliki hubungan darah, segala kebutuhan diberikan bahkan terkadang tak seperspun uang keluar dari kantong kami. Dalam menjaga kehormatan wanita, mereka sangat peduli dan melindungi wanita-wanita (keluarga) mereka, sampai pada titik dimana menanyakan kabar dari wanita-wanita mereka merupakan hal yang begitu sensitif. Meskipun begitu, banyak gadis pashtun yang sudah tercampuri kehidupan urban resah, kemudian mulai mengangkat isu kesetaraan gender.
Dalam stereotip masyarakat umum, suku pashtun kerap dikenal sebagai kaum yang keras namun sangat religius. Menjunjung tinggi syariat,menjaga hubungan kepada wanita dengan batasan yang tegas, dan menempatkan kehormatan keluarga diatas segalanya.
Gambaran ini menjadikan mereka sebagai simbol kesalehan yang berpadu dengan keberanian; laki-laki bersorban yang hidup membawa nilai kehormatan. Namun, dibalik citra kesalehannya, tersimpan paradoks yang jarang dibicarakan: di tanah yang menjunjung kehormatan wanita, anak-anak lelaki justru menjadi korban sunyi.
Fenomena Bacha Bazi, praktik eksploitasi anak laki-laki untuk hiburan bahkan kepuasan seksual, fenomena yang membuka luka moral di tengah masyarakat yang dikenal agamis. Agama yang menyeru pada kemuliaan manusia, berhadapan dengan fenomena sosial yang terjebak dalam struktur kekuasaan dan kehormatan semu.
Bacha bazi, sebuah praktik penyimpangan budaya Afghanistan, yang kemudian menjadi rahasia umum, memiliki arti harfiah “dancing boys”.
Anak laki-laki sampai remaja akan dijadikan sebagai penghibur Bacha Baz (pelaku Bacha Bazi), mereka bernyanyi dan menari mengenakan atribut layaknya wanita, culture Afghanistan mengenal sebuah konsep yang berbunyi “Women are for the children and boys are for pleasure” (HTT,209), konsep dasar yang mengiringi praktik Bacha bazi.
Sebuah studi lapangan menyebutkan bahwa di wilayah suku Pashtun bagian selatan Afghanistan, perkiraan sekitar 50% laki-laki dewasa dilaporkan pernah terlibat dalam praktik bacha bazi — baik sebagai pelaku langsung maupun sebagai pihak yang mentolerir praktik tersebut (Misra, A. (2023). Men on top: Sexual economy of bacha bazi in Afghanistan. Lancaster University, UK.)
Ironisnya, Bacha bazi pun memiliki nilai bagi masyarakat, yaitu sebagai status sosial. Semakin banyak Bacha bazi yang dimiliki, semakin tinggi pula status sosial yang dimiliki.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa spiritualitas bukan hanya tentang hubungan vertikal manusia dengan Tuhan secara praktik ritual saja, tetapi juga bagaimana menjaga harmoni hubungan horizontal terhadap sesama makhluk tuhan.
Pertanyaannya kini bukan hanya “mengapa praktik penyimpangan tradisi seperti bacha bazi masih ada ?”, tetapi bagaimana masyarakat yang begitu religius dapat menyelaraskan antara ajaran “kebenaran”yang mereka yakini dan kenyataan penyimpangan sosial yang mereka pelihara.
Apakah agama yang mereka yakini benar-benar menjadi pedoman moral yang menuntun nurani, atau telah berubah menjadi sebatas “alat” atau “komoditas” yang diperjualbelikan di pasar bebas ?
Pakistan merupakan negara multikultural dengan ragam budaya dan corak diversitas kepercayaan spiritual yang unik dengan…
Pakistan merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia dengan presentasi 97% dari warga…
Beberapa tahun setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, tepatnya pada 1928, Hasan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin di…
Dialektika substansi manusia. sejak awal peradaban, manusia selalu memandang dirinya sendiri dengan penuh rasa keingin…
Islamabad, Pakistan — Perhimpunan Pelajar dan MahasiswaIndonesia (PPMI) Pakistan mengirimkan delegasi untukberpartisipasi dalam International MOIC…
Salah satu keyakinan yang berkembang di masyarakat bahwa Siti Hawa berasal dari tulang rusuk Nabi…