Salah satu keyakinan yang berkembang di masyarakat bahwa Siti Hawa berasal dari tulang rusuk Nabi Adam AS. menjadi hal yang sudah mengakar sedemikian rupa, baik dari kalangan awam sampai para pakar sudah double yakin. Seakan ia menjadi nilai ta’abbudi (no change) yang tak akan pernah terbantahkan mengenai keabsaahannya dan tidak ada perubahan pada interpretasi tersebut. Lalu ayat atau hadis yang tidak berbicara secara eksplisit tentang mengenai Siti Hawa berasal dari tulang rusuk Nabi Adam. Adalah hal yang malah sering dipakai kaum patriarki untuk mensubordinasi dan memarginalkan para feminim. Dan pada gilirannya kaum maskulin dianggap sebagai sumber utama dan lebih mulia. Sementara perempuan merupakan cabang dari laki-laki yang harus di anak tirikan.
Satu-satunya ayat yang sering dijadikan sebagai rujukan dan menjadi alat subordinasi penciptaan perempuan adalah ayat pertama surat an-Nisa’. Yaitu ;
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً
Artinya: “wahai manusia, bertakwalah kepada tuhan kalian, yang telah menciptakan kalian dari esensi yang satu, kemudian menciptakan dari jenis yang sama (esensi yang satu tersebut) pasangannya, lalu dari keduanya, dia mengembangbiakkan para laki-laki dan perempuan yang banyak”.(Q.S. an-Nisa’[4]:1).
Ayat ini, sebagaimana tergambar secara jelas, jika menggunakan pembacaan metode muhkam-mutasyabih maupun qat’i-zhanni, sama sekali tidak berbicara mengenai penciptaan laki-laki dan perempuan, atau bahkan tidak ada pernyataan yang tegas penciptaan Siti Hawa berasal dari Nabi Adam As. Kata ”an-Nas” menurut Imam ar-Razi (w. 1250/1854), Syeh Muhammad Abduh (w. 1905) dan Syeh Rasyid Ridla (w. 1935) dalam tafsir Mafatih al-Ghaib berarti manusia secara umum, yaitu laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain bahwa Allah SWT. “Menciptakan kalian semua, manusia”. Bukan “menciptakan Nabi Adam saja, atau laki-laki saja”. Sehingga kata “nafsin wahidah” dan “zaujaha” yang pas secara bahasa adalah mempunyai arti diri, jiwa, esensi, sedangkan “zaujaha” ialah pasangan.
Untuk lebih jelasnya, penulis mengkritik secara struktur bahasa kata “nafsin wahidah” sesungguhnya adalah bentuk perempuan dengan makna yang netral tanpa jenis kelamin. Akan lebih tepat jika tidak diartikan Nabi Adam As. maupun laki-laki, tetapi dibiarkan makna netral yang non-eksis, yaitu esensi yang satu. Dan bisa jadi al-Qur’an sengaja menggunakan term muannas sebagai asal kejadian, bukan term mudzakar, untuk membalik kesadaran banyak masyarakat masa dulu yang begitu kokoh atas keyakinan dan pikirannya bahwa laki-laki adalah sumber penciptaan perempuan. Dan pada akhirnya interpretasi yang sangat fatal ini acap kali dijadikan senjata ketidak-adilan, penindasan, dan marginalisasi terhadap perempuan.
Namun anehnya, dengan asumsi yang telah mengakar di masyarakat ini, bahkan para pakar sekalipun seperti Imam at-Thabari (w. 310/923), Mujahid, Qatadah, Ibnu Katsir dan Imam as-Suddi dalam tafsir al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an dan lainnya, masih mentafsirkan kata “nafsin wahidah” sebagai Nabi Adam As. Sementara kata “zaujaha” diartikan Siti Hawa dengan alasan tidak ada rujukan secara eksplisit dalam al-Qur’an maupun Hadis. Bahkan kemudian ulama’ kontemporer menganggap pandangan ini bersumber pada Kitab Perjanjian Lama. Sebab dalam kitab suci Yahudi dan Nasrani ini, memang ada pernyataan eksplisit mengenai hal tersebut.
Dengan lahirnya tafsir asumtif ini. Muncul embrio pandangan bahwa Siti Hawa diciptakan dari Nabi Adam As. Dan seakan laki-laki sumber awal dan lebih utama dari pada perempuan sehingga sendi-sendi perempuan harus ditentukan oleh standart laki-laki. Relasi yang tidak setara ini kemudian melahirkan segala bentuk kekerasan dalam kehidupan perempuan. Yaitu dimana perempuan harus patuh, rendah-diri, dan mengalah demi kepentingan laki-laki.
Beberapa ulama’ tafsir seperti Imam Ibnu Katsir menguatkan juga pandangan ulama’ klasik ini. Berlandaskan Hadis Shahih yang menyatakan bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk perempuan berdasarkan Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah Ra. Yaitu ;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: المَرْأَةُ كَالضِّلَعِ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ
Artinya: “bahwa Rasulullah SAW. Bersabda, ‘Istri itu seperti tulang rusuk yang bengkok dan keras. Jika kamu luruskan, kamu bisa mematahkannya. Jika kamu biarkan, dan tetap menikmatinya, maka kamu akan menikmati seorang yang ada kebengkokan (kekurangan) dalam dirinya” (shahih bukhari, no. Hadis: 5239)
Dalam Hadis ini perlu digaris bawahi dan dikaji lebih lanjut dari sudut pandang mubadalah, historis, sosial, dan tentu harus sesuai dengan konteknya agar tidak gagal paham untuk memahami kandungannya. Karena dalam kajian metodologi tafsir, suatu makna yang berlawanan dengan teks-teks, fakta realiatas, atau akal pikiran, harus ditarik menjadi makna kiasan.
Sebenarnya, secara kontek Hadis tersebut tidak sedang diskusi tentang penciptaan perempuan. Namun, Mahmud Abu Syuqqah berpendapat dengan mengaitkan hadis-hadis lainnya. Bahwa Hadis tersebut sedang berbicara sebatas metafora atau kiasan “istri laksana tulang rusuk” bukan “tercipta dari tulang rusuk”. adalah agar masyarakat peka bahwa makna tersebut secara esensinya hanya sebagai relasi antara laki-laki dan perempuan. karena perempuan diibaratkan “seorang yang kaku dan keras kepala” yang jika “dipaksakan akan patah, tetapi apabila dibiarkan akan tetap keras dan kaku seperti tulang rusuk”. Jadi interpretasi sebenarnya mengenai Hadis ini adalah bukan soal penciptaan laki-laki dan perempuan dari tulang rusuk laki-laki, melainkan kiasan metaforis tentang karakter perempuan/istri dan relasinya laki-laki/suami dalam kehidupan rumah tangga.
Pakistan merupakan negara multikultural dengan ragam budaya dan corak diversitas kepercayaan spiritual yang unik dengan…
Pakistan merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia dengan presentasi 97% dari warga…
Beberapa tahun setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, tepatnya pada 1928, Hasan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin di…
Dialektika substansi manusia. sejak awal peradaban, manusia selalu memandang dirinya sendiri dengan penuh rasa keingin…
Islamabad, Pakistan — Perhimpunan Pelajar dan MahasiswaIndonesia (PPMI) Pakistan mengirimkan delegasi untukberpartisipasi dalam International MOIC…
Islamabad– Presiden Prabowo Subianto menerima penghargaan sipil tertinggi Pakistan, Nishan-e-Pakistan, dari Presiden Asif Ali Zardari…