Berbeda dengan Indonesia yang mewajibkan pemerintah mengalokasikan sedikitnya 20% APBN untuk sektor pendidikan (UUD Pasal 31 Ayat 4), Pakistan dalam menyusun anggaran tahunannya hanya berdasarkan kesepakatan antara pemerintah dan parlemen tanpa adanya prioritas yang pakem. Hal ini memungkinkan masuknya interpretasi politik nasional dari salah satu kubu, dalam hal ini yaitu pemerintah pusat, lalu bagaimana dengan kesepakatan parlemen? Tentu kita tahu bahwa komposisi Perdana Menteri (kepala pemerintah) adalah primus dari koalisi yang menang di parlemen (MNA).
Pertama: Melihat anggaran pertahanan Pakistan
Terkait anggaran pertahanan Pakistan, berikut adalah anggaran tahunan pertahanan Pakistan dari 2022-2026 dan persentasenya dari anggaran nasional
|
Fiscal Year |
Anggaran Pertahanan | Anggaran Belanja Nasional Pak. | Persentase |
|
2022-2023 |
5,4 Miliar USD | 34,0 Miliar USD | 16% |
|
2023-2024 |
6,44 Miliar USD | 51,64 Miliar USD | 12,5% |
| 2024-2025 | 7,58 Miliar USD | 67,42 Miliar USD |
11,24% |
| 2025-2026 | 9,11 Miliar USD | 62,76 Miliar USD |
14,49% |
| 2026-2027 | Belum | Belum |
– |
Bila kita lihat, anggaran pertahanan tersebut cukup besar berdasarkan persentasenya mengingat Pakistan adalah negara berkembang yang masih memerlukan pembangunan multi sektor dan masih banyak masyarakatnya yang pra sejahtera (walau bagi penulis anggaran pertahanan idealnya juga besar).
Sebenarnya, anggaran pertahanan (bagi penulis) adalah bukan terkait besar atau kecilnya, yang paling penting adalah apakah tepat sasaran atau tidak, sebab apabila anggarannya sudah besar tetapi tidak tepat sasaran, maka itu sama saja dan begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu terkait anggaran pertahanan, harusnya lebih tepat sasaran dan proporsional dengan mempertimbangkan sektor kehidupan yang lainnya.
Namun yang terjadi adalah adalah ketika Pakistan menggelontorkan dana yang cukup besar untuk satu sektor ini, ada sektor lain yang dikorbankan, di antaranya adalah sektor pariwisata, kesejahteraan sosial (pengentasan kemiskinan masih PR besar dan kesenjangan sosial di Pakistan sangat tinggi) Pendidikan, kebudayaan, kesehatan, teknologi, energi, pembangunan fasilitas publik dsb., belum lagi dengan korupsi-korupsi para oknumnya.
Hal inilah yang dimaksud anggaran pertahanan Pakistan sangat besar dan membebani sektor yang lain. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh unescap.org belanja tahunan Pakistan yang paling besar adalah untuk:
- Pembayaran hutang dan bunganya (domestik maupun luar negeri)
- Pertahanan dan keamanan

*Data tahun 2023-2024
Mengapa Pakistan memerlukan anggaran pertahanan yang besar?
Secara sederhana, jawabannya adalah sebagai berikut:
- Pakistan memerluakan biaya yang banyak untuk membeli alutsista baru dan merawat alutsista yang lama.
- Tidak memiliki pakem terntentu dalam penyusunan anggaran nasional tahunan Bersama parlemen.
- Militer masih menjadi faksi terkuat di wilayah antara sipil, pemerintahan (teknokrat dan policy maker) dan militer.
Mengenai ini, tidak sedikit instansi diisi oleh pejabat dari militer, atau birokrat yang bisa diarahkan oleh militer, atau diisi oleh intel.
- Militer Pakistan merasa yang paling bertanggung jawab apabila terjadi ketidak amanan atau ancaman perang, bukan policy maker, atau gabungan di antaranya.
- Membiayai penelitian proyek industri pertahanan strategis, sehingga menghasilkan produk pertahanan buatan sendiri, seperti;
- Jet tempur JF-17
- Nuklir
- Rudal penjelajah – rudal balistik
- Rantis – ranpur
- Kapal perang AL, dan
- Siber security
- Perisapan logistik yang besar (dari amunisi hingga urusan dapur) karena Pakistan berada di Kawasan rawan konflik.
Biaya latihan rutin, karena Pakistan berada di Kawasan rawan konflik, baik internal ataupun internasional.
Mengapa pertahanan Pakistan begitu penting?
Berbeda dengan Indonesia yang berada di kawasan dengan tensi geopolitik relatif aman dan dukungan kerja sama ASEAN saling menguntungkan, Pakistan justru dikelilingi oleh negara-negara yang berpotensi konflik dengan alasan yang kompleks, di antaranya; sejarah, sengketa wilayah, ideologi, maupun faktor ekonomi, seperti; India, Afghanistan, Iran, bahkan Cina.
Pada dasarnya, pertahanan dan keamanan suatu negara adalah hal yang penting, bukan hanya Pakistan, tetapi untuk semua negara termasuk kita (indonesia). Sebab, mempertahankan wilayah, menjaga masyarakat, menaikkan harga diri dan martabat sebuah bangsa adalah tujuan dari sebuah negara itu ada, maka apabila 3 hal tersebut terancam (baik oleh kekuatan internal maupun eksternal) negara harus mampu mengatasinya, apabila tidak mampu, maka pertahanan negara itu patut dipertanyakan(?)
Selain di atas, ada beberapa hal mengapa pertahanan Pakistan begitu penting, di antaranya:
- Mempertahankan negara adalah hal yang utama, baik fisik, maupun non-fisik, non-fisik meliputi ekonomi, budaya, siber, dll.
- Sebagai negara rawan konflik, Pakistan perlu menyeimbangi kekuatan pertahanan rivalnya, baik kualitas maupun kuantitasnya (terkhusus india sebagai rival abadinya sampai saat ini) dalam rangka mempersiapkan diri dari peperangan maupun ketika perang berlangsung.
Prof. Salim Haji Said pernah berkata : “Taiwan maju karena takut dengan cina daratan, korsel maju karena takut dengan korut, singapura maju karena ia minoritas di tengah melayu, dan Israel maju karena di tengah kawasan arab sendiri, kalau tidak hebat maka mereka akan dikeremus”. Maksudnya adalah perlunya menyeimbangi kekuatan pertahanan terhadap tetangga negaranya dan lebih kuat lebih bagus.
- Pakistan tidak mau dianggap lemah oleh negara lain, sehingga mudah diremehkan oleh bangsa yang lain.
- Pakistan mengamalkan “si vis pacem para bellum” sebuah adagium dari Roma yang berarti, “apabila ingin berdamai, maka bersiaplah untuk berperang.” Yaitu bisa jadi Pakistan hanya mengingkan perdamaian, tetapi ia menyadari bahwa sekalipun untuk tujuan perdamaian, memperkuat pertahanannya juga hal yang dibenarkan demi antisipasi di masa depan.
Posisi militer Pakistan
Dari beberapa penjabaran di atas, posisi militer Pakistan cukup bagus, ia menempati posisi yang bisa diperhitungkan baik oleh lawan maupun kawan. Dampaknya sebagai negara mayoritas muslim di dunia, ia sedikit bisa diharapkan (kalau mau) untuk menjadi simbol kekuatan umat, sekalipun kondisi keumatan di Pakistan juga masih banyak PRnya.

Menurut penilaian global firepower, ia menempati nomor 12, di atas Indonesia. Penilaian ini tidak bisa dijadikan acuan utama, hanya saja berdasarkan fakta lapangan dan sejarah, kualitas Pakistan memang patut dipertimbangkan.
Lain-lain
Apabila kita berbicara dalam konteks perdamaian, ada beberapa faktor lain yang bisa dipakai untuk tujuan tersebut tanpa memfokuskan kepada sektor pertahanan saja, yaitu:
- Memperbanyak dialog antar negara dengan tema perdamaian dunia, keamanan global, dan kemakmuran bersama (prosperity), hal ini dapat menjadi sarana efektif untuk membangun saling pengertian dan mengurangi potensi konflik.
- Meningkatkan kerjasama di luar pertahanan, seperti kerjasama bidang Pendidikan, kesehatan, lingkungan, penanggulangan bencana dan perdagangan internasional yang saling menguntungkan.
- Menghindari penggunaan kekuatan militer apabila terjadi masalah, dan disertai upaya penyelesaian dengan damai atau diplomasi atau menggunakan pihak ketiga sebagai pihak penengah.
- Meningkatkan kualitas Pendidikan para pejabat terkait di Pakistan. Bagi yang suka mendalilkan “orang bodoh suka bertengkar” atau “belajarnya kurang jauh”, cara ini memungkinkan antisipasi konflik.
Demikian sedikit tulisan terkait pertahanan Pakistan, kita yang tinggal di kawasan yang lebih aman dan damai patut bersyukur, sebab dengan pemasukan GDP yang lebih besar dari Pakistan serta alokasi APBN yang cenderung lebih merata (walau masih banyak PR), Indonesia memiliki ruang fiskal yang memungkinkan penguatan sektor-sektor strategis tanpa harus mengorbankan sektor-sektor penting lainnya.
Sumber:
- UUD 1945
- CNN
- daw.com
- The news pk
- globalfirepower.com
- The economist
- UNESCAP/unescap.org
- YouTube (ILC)
Karya lainnya (pertahanan): “Menuju Kemajuan Indonesia Melalui Penguatan Sistem Petahanan dan Keamanan Negara (Katalisator Kemajuan Bangsa Aspek Pertahanan Suatu Negara)” https://www.penerbit.nurummubin.or.id/preview-buku/fikrah-peradaban-negara hal. 167-203.










