Opini

Sebuah Analogi Realita Kini

Semilir angin lembut menyapa, pada dini hari. Membaca fakta dari data BPS, terkait hasil Susenas tahun 2018, ternyata Indonesia adalah rumah bagi 63,82 juta jiwa pemuda, jumlah tersebut merupakan seperempat dari total penduduk Indonesia. Ini menjadi sebuah angka bonus demografi Indonesia, yang diketahui akan meningkat pada tahun 2020-2030.

Perlu di ketahui pemuda itu adalah sumber pergerakan, pembaharu. Jikalau di sarankan Pemuda itu mesti menjauh dari karakter jiwa rebahan. Memang kurang tepat dengan realita sekarang, tetapi apa daya memang perlu di usahakan demikian. Rangkaian kalimat sedikit hingga banyak di tulis, alih-alih ingin sedikit mencubit teman-teman pemuda semuanya, dimanapun berada, terkait kesadaran kita sebagai pemuda.

Terulang terdengar puluhan kali, tentang sebuah cerita tentang pohon yang baik. Baik dari pendidikan orang tua di rumah, atau dari pendidikan guru di madrasah. Mukmin bagaikan pohon kurma, dan pohon kurma merupakan pohon yang baik. Usut punya usut penulis receh ini belajar menganalogikan sebuah barisan hikmah di dalam hadits, kepada sebuah gambaran tentang peran kita sebagai rakyat Indonesia. Kaitannya, tentang bagaimana agar kita mampu menjadi seseorang yang berkualitas, baik untuk diri, keluarga, masyarakat hingga Negara. Menjadi pribadi yang mampu masuk ke dalam peran perjuangan menegakkan keadilan pada negerinya.

Indikator sebuah pohon yang baik atau berkualitas ada tiga hal: Pertama, ashluha tsabitun (akarnya menghujam ke perut bumi). Akar yang kuat menjadi dasar dan tumpuan tumbuhnya pohon yang besar. Mungkin pada diri seorang mukmin, akar sama dengan tauhid pada dirinya. Gambaran dasar pada bangsa adalah dasar-dasar Negara, Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Ideologi Pancasila, dan juga rasa nasionalisme pada setiap rakyat. Semakin dalam akarnya, maka akan semakin kuat pula.

Kedua, far’uha fis-samai (dahannya menjulang ke langit). Pohon yang sudah berurat berakar, akan menumbuhkan batang yang besar, dahan dan ranting yang banyak serta berdaun lebat. Ia akan membagikan oksigen yang bersih dan kesejukan bagi manusia. Hijau dan menyejukkan. Ini ibarat seorang Mukmin yang taat dalam menjalankan syariat Islam, baik dalam ibadah ritual maupun sosial (muamalah). Akidah (iman) yang kuat harus tampak pada kepatuhan dalam menjalankan ibadah ketika menjalankan aktivitas sehari-hari.

Tiga aspek yang mampu menguatkan dahan dan cabang dalam sebuah Negara, yang pertama adalah aspek pertahanan dalam suatu Negara itu sendiri. Indonesia adalah sebuah Negara maritim. Berbatasan dengan, Papua Nugini, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Singapura dan di bagian selatan ada Australia. Bisa lebih ditingkatkan kekuatan militer kelautan dan teknologi-teknologi mesin tempur yang berkaitan, halnya kapal selam, kapal laut tempur, dan lain-lainnya. Melihat sumber data dari internet, ada contoh sebuah Negara hal nya Turki, yang hanya mempunyai laut sepertiga atau seperempatnya dari Indonesia, tapi pertahanannya cukup kuat dan mumpuni. Baik sumber tenaga manusia yang mempunyai militer aktif yang banyak, ataupun alat senjata yang luar biasa. Hingga di akui dunia menjadi salah satu Negara yang masuk dalam kategori Negara terbanyak Sumber Daya Manusia dalam militer dan kuantitas senjata.

Poin ke dua yakni, dari Aspek Ekonomi. Sisi ini yang sering di rasakan oleh masyarakat. Yang sangat terasa oleh rakyat. Apalagi tingkat perekonomian masyarakat di Indonesia dari kelas menengah hingga ke bawah cukup tinggi mungkin kurang lebih sebanyak 60%. Perlunya penguatan ekonomi Negara dengan meminimalisir impor, dengan mencintai produk buatan Indonesia. Hingga maksimalkan ekspor barang yang menguntungkan.

Poin ke tiga adalah Aspek Pembangunan ditambah dengan Aspek Teknologi. Kedua poin ini terpikirkan seperti selaras, harus seimbang. Tidak ada pembangunan, ekonomi tidak akan maju. Seperti jalan tol yang di buat, itu sangat membantu dalam pertumbuhan ekonomi. Namun, jika hanya mengandalkan segalanya dengan manual, maka tertinggalnya kita pada kata efisien. Tertinggal informasi, terlalu lambat tersebabkan membutuhkan waktu yang lama. Maka adanya teknologi membantu umat manusia dalam meraih harga efisien.

Ketiga, tu’tii ukulaha kulla hiin (berbuah setiap waktu). Pohon yang baik tidak hanya berakar kuat dan berdahan besar, tapi juga berbuah banyak dan manis. Pohon ini menguntungkan pemiliknya dan orang lain. Semakin bagus kualitasnya, semakin tinggi pula harganya. Inilah perumpamaan Mukmin yang berakhlak karimah. Akidah dan syariat yang kuat dan benar mestilah berbuah akhlak mulia (karakter islami). “Sebaik-baik keislaman seseorang adalah yang terbaik akhlakhnya”. (HR. At-Turmudzi).

 

Dan analogi dari buah yang manis ini, selain pada diri seorang mukmin, bisa masuk juga pada masing-masing rakyat di Indonesia. Dia atau mereka akan menjadi buah yang ranum dan manis jika saja proses pada pengokohan akar dan batang hingga cabang terproses dengan baik. Andai buah itu masam, maka yang di pertanyakannya adalah terkait batangnya, cabang pohonnya, hingga akarnya. Jangan sampai akar kita, hanya sebuah akar serabut. Jikalau di cabut, langsug tercabut mudah. Jadilah akar tunggal yang dalam, sebab sedalam-dalamnya akar serabut tetap mudah tercabut. Pemuda kini, kuhampiri banyak dari mereka yang kurang kokoh dalam dasar Negara, bahkan tiadanya jiwa nasionalis Indonesia. Tunggal tak gapai, serabut berlimpah ruah. Buah yang manis, akhlaknya baik, pikirnya baik, jiwanya baik, dan dia akan tumbuh dan berkembang menjadi Pemuda yang sehat. Jika akal dan pikirnya baik, maka lingkunganpun terbentuk baik. Percayalah, disana pasti mampu untuk berlayar menempuh arus kebangkitan rakyat Indonesia.

Sebenarnya mau cinta, tapi gara-gara melihat pemimpin yang tidak karuan ke rakyat, menjadi hilang rasa loyalitas kami. Sebenarnya mau cinta, tapi akhlaq dan keadilan semakin kesini semakin kusut dan terkikis. Sebenarnya mau cinta, tapi guru yang mengajar sibuk dengan kopi dan rokok, hingga dia tidak mementingkan kewajiban dan tugasnya. Sebenarnya mau cinta, tetapi melihat guru yang menjadi pengawas ujian, melihat anak didiknya menyontek di biarkan begitu saja. Sebenarnya mau cinta, tapi peraturan tumpul di atas, tajam ke bawah. Sebenarnya mau cinta, tapi melihat perekonomian Indonesia yang carut-marut membuat hati bimbang. Sebenarnya mau cinta, tapi melihat korupsi, nepotisme, berlimpah ruah. Alasan apa lagi yang harus kami simpan dalam jiwa raga kami, agar tetap kokoh menghujam pada jiwa-jiwa kami. Selain satu, kami terlahir di sana. Dan harus berkontribusi positif mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang untuk Indonesia. Bertahap, sedikit demi sedikit realisasi, hingga tumbuh rasa cinta di hati.

Sebagai generasi muda, teringat visi Indonesia emas 2045. Dilihat dari fakta, bahwasanya Pemuda Indonesia banyak. Jangan sekedar menjadi buih-buih lautan saja. Namun, jadilah sebuah batu. Sebab NKRI akan bangga. Meski isinya masih porak poranda. Pemuda harus bangkit dengan kejujuran dan penuh akan sikap yang adil.

Teringat, begitu pentingnya kedudukan dan peranan pemuda, sampai-sampai Ir. Soekarno berucap, “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia”.

 

 

 

Referensi

https://www.ayobandung.com/read/2019/10/29/68444/pemuda-milenial-menyongsong-era-bonus-demografi

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/01/19/mguc89-pohon-yang-baik

https://www.liputan6.com/health/read/3638672/mengenal-karakter-anak-muda-yang-berkualitas

https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/trend/17/06/13/orh4ow328-anak-muda-minim-rasa-nasionalisme

https://www.jambiupdate.co/artikel-peran-pemuda-dalam-menjaga-keutuhan-nkri.html

https://www.trt.net.tr/melayu/program/2018/02/04/pandangan-kebijakan-luar-negeri-turki-5-902398

Admin

Recent Posts

Ghawari, Secercah Cahaya Terang di balik Provinsi yang Hitam

Pakistan merupakan negara multikultural dengan ragam budaya dan corak diversitas kepercayaan spiritual yang unik dengan…

2 days ago

Pakistan dan Simbol Toleransi Umat Beragama.

Pakistan merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia dengan presentasi 97% dari warga…

5 days ago

Revolusi Islam Iran dan Ikhwanul Muslimin

Beberapa tahun setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, tepatnya pada 1928, Hasan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin di…

3 weeks ago

Bagaimana Ibnu Sina Membuktikan Eksistensi jiwa secara Rasional.

Dialektika substansi manusia. sejak awal peradaban, manusia selalu memandang dirinya sendiri dengan penuh rasa keingin…

2 months ago

PPMI Pakistan Kirim Delegasi dalam International Model OIC Pakistan Summit 2025 di Islamabad

Islamabad, Pakistan — Perhimpunan Pelajar dan MahasiswaIndonesia (PPMI) Pakistan mengirimkan delegasi untukberpartisipasi dalam International MOIC…

2 months ago

Tafsir Sebagai Alat Legitimasi Perempuan

Salah satu keyakinan yang berkembang di masyarakat bahwa Siti Hawa berasal dari tulang rusuk Nabi…

2 months ago