Islamabad– Pakistan semakin terlihat jelas dalam minggu terakhir ini, ketika Presiden Prabowo Subianto tiba hari Senin di Islamabad (8/12) untuk kunjungan resmi yang memadukan formalitas dengan momen-momen diskusi yang jujur dan mengejutkan. Pertemuan tersebut membahas pertahanan, perdagangan, kesiapan menghadapi bencana, dan teknologi, tetapi yang paling menonjol adalah kesamaan pandangan bahwa kedua negara akhirnya ingin mengubah niat baik yang telah lama terjalin menjadi kerja sama yang konkret.
Presiden Prabowo bertemu segera dengan Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif setelah mendarat. Orang-orang di ruangan tersebut menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai pembicaraan yang lugas, tenang, tentram dengan protokol yang lebih sedikit dari yang diharapkan. Isu pertahanan muncul di awal: pelatihan bersama, pertukaran antar perwira, dan kemungkinan menghidupkan kembali percakapan lama tentang pengembangan peralatan bersama. Indonesia telah menguji sistem buatan Pakistan di masa lalu, dan Pakistan terus mengamati dengan cermat industri kedirgantaraan dan perkapalan Indonesia.
Apa yang telah dibahas dari pertemuan kedua belahpihak?
Poin penting kunjungan bilateral Pakistan_ sebagaimana dikutip dalam artikel jakartaglobe.id adalah upaya untuk menggerakkan kembali Perjanjian Perdagangan Preferensial. Negosiasi telah berlarut-larut selama bertahun-tahun, tetapi kedua pihak sekarang tampaknya bertekad untuk memecah kebuntuan. Minyak sawit, tekstil, pertanian, sertifikasi halal, dan pasokan energi (terutama gas alam cair) adalah bidang-bidang yang diharapkan akan bergerak lebih dulu, setelah timteknis kembali ke meja perundingan.
Salah satu topik yang menarik minat untuk dicermati adalah kerja sama penanggulangan bencana. Banjir baru-baru ini di Pakistan telah mengubah prioritas nasional, sementara pengalaman panjang Indonesia dalam menanggapi gempabumi dan tsunami telah menghasilkan institusi yang sering dipelajari oleh negara lain. Islamabad meminta kerja sama yang lebih terstruktur dalam sistem peringatan, berbagi data, dan latihan darurat.
Tidak hanya itu, keamanan siber juga merupakan poin penting pembahasan dalam pertemuan ini, meskipun secara singkat. Kedua negara memiliki sektor digital yang berkembang dengan kecepatan berbeda, tetapi para pejabat mencatat bahwa pelatihan bersama dan program kesadaran dapat menjadi titik awal yang praktis.
Hubungan yang Panjang, tidak bisa diremehkan
Kunjungan ini juga mengingatkan kembali betapa panjangnya hubungan ini. Indonesia dan Pakistan meresmikan hubungan pada tahun 1955 sampai dewasa ini, namun hubungan mereka dimulai bahkan lebih awal melalui lingkaran anti-kolonial dan semangat Bandung yang membentuk lanskap politik Asia setelah Perang Dunia II. Pakistan mendukung Indonesia selama perjuangan kemerdekaan; Indonesia kemudian mendukung Pakistan di beberapa forum global, termasuk Gerakan Non-Blok dan lain sebagainya.
Pertukaran pertahanan dan diplomatic antara Indonesia-Pakistan terus berlanjut selama beberapa dekade terakhir. Di sisi lain, hubungan ekonomi tidak pernah sepenuhnya sebanding dengan kehangatan politik—sesuatu yang diakui kedua pemerintah selama kunjungan ini.
Hasil pembahasan Indonesia–Pakistan
Dunia berubah dengan cepat tanpa terhitung waktu, Indonesia serta Pakistan tahu bahwa mereka membutuhkan lebih banyak mitra yang dapat diandalkan. Kunjungan Prabowo membuka ruang untuk kemitraan yang lebih mendasar—bukan hanya persahabatan seremonial, tetapi hubungan kerja yang dibentuk oleh kebutuhan nyata di bidang pertahanan, perdagangan, ketahanan pangan, dan ketahanan terhadap bencana. Mengubah rencana ini menjadi hasil akan membutuhkan waktu, namun niatnya sekarang lebih jelas daripada beberapa tahun terakhir. Kedua belah pihak sama-sama mempunyai komitmen, yaitu merealisasikan hubungan kerja sama tersebut dalam bentuk Tindakan yang nyata.
Pakistan merupakan negara multikultural dengan ragam budaya dan corak diversitas kepercayaan spiritual yang unik dengan…
Pakistan merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia dengan presentasi 97% dari warga…
Beberapa tahun setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, tepatnya pada 1928, Hasan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin di…
Dialektika substansi manusia. sejak awal peradaban, manusia selalu memandang dirinya sendiri dengan penuh rasa keingin…
Islamabad, Pakistan — Perhimpunan Pelajar dan MahasiswaIndonesia (PPMI) Pakistan mengirimkan delegasi untukberpartisipasi dalam International MOIC…
Salah satu keyakinan yang berkembang di masyarakat bahwa Siti Hawa berasal dari tulang rusuk Nabi…