Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke daerah Adam Khel, sebuah wilayah yang dikenal dengan pasar senjata tradisionalnya. Di sana, senjata api dijual secara terbuka, seolah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Saya sempat terdiam, bertanya dalam hati: mengapa masyarakat masih merasa perlu memiliki senjata api untuk menjaga diri mereka? Dari siapa mereka merasa perlu melindungi diri? Apakah tidak ada cara lain untuk merasa aman selain dengan memegang alat yang dirancang untuk menghilangkan nyawa?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab, tapi kemudian saya teringat pada konsep security dilemma dalam teori hubungan internasional, khususnya dalam pendekatan realis. Realisme melihat dunia sebagai tempat yang penuh ketidakpastian, di mana setiap aktor baik itu negara, kelompok, maupun individu tidak bisa sepenuhnya mempercayai niat pihak lain. Karena ketidakpercayaan itu, mereka merasa perlu memperkuat diri. Di sinilah muncul dilema: ketika satu pihak memperkuat dirinya (misalnya dengan membeli senjata), pihak lain merasa terancam dan ikut memperkuat diri, walaupun tidak ada niat menyerang dari awal.
Yang menarik (dan menyedihkan), logika ini tidak hanya terjadi antarnegara. Di masyarakat seperti Adam Khel, security dilemma hadir dalam bentuk nyata dan dekat. Masing-masing kelompok mempersenjatai diri bukan karena ingin berperang, tetapi karena tidak yakin apakah kelompok lain akan bersikap damai. Negara yang idealnya menjadi penjaga rasa aman justru sering kali tidak hadir secara efektif. Maka, masyarakat mengambil alih peran itu sendiri dan senjata api menjadi simbol kekuatan sekaligus perisai rasa takut mereka.
Saya pun makin sadar, bahwa rasa aman tidak hanya soal perlindungan fisik, tetapi juga soal kepercayaan sosial. Ketika kepercayaan itu hilang entah kepada negara, tetangga, atau masyarakat lain maka senjata menjadi jawaban instan. Ironisnya, senjata yang diciptakan untuk keamanan, justru memperkuat rasa tidak aman itu sendiri. Inilah lingkaran dilema yang saya saksikan langsung, bukan di buku teori, tapi di antara etalase-etalase senjata yang dijual kepada publik.







