Artikel

Ghawari, Secercah Cahaya Terang di balik Provinsi yang Hitam

Pakistan merupakan negara multikultural dengan ragam budaya dan corak diversitas kepercayaan spiritual yang unik dengan mayoritas penduduknya menganut agama islam sebanyak 240 juta jiwa.

Dari jumlah tersebut 90% di antaranya menganut islam sunni dan 10% menganut islam syiah, adapun salah satu provinsi yang sebagian besar penduduknya menganut syiah adalah provinsi Gilgit-Baltistan, di wilayah Baltistan sendiri rasio 90% syiah ,adapun syiah yang menduduki wilayah baltistan keseluruhan merupakan kelompok syiah Ja’fariyah.

Ghawari sendiri merupakan kota pertanian kecil yang terletak di kawasan sungai syokh tepat di kaki gunung Himalaya di provinsi Baltistan.

Jika kita ingin menuju ke desa indah tersebut kita perlu menaiki kendaraan umum milik warga kota Skardu dan butuh beberapa kali pemberhentian untuk berganti kendaraan karna akses untuk menuju desa tersebut sangatlah sulit, dan di jaga oleh pasukan tentara Pakistan karna berbatasan langsung dengan negara India.

Ya saat ini memang suasana perbatasan tersebut sudah sangat kondusif, sejak dua tahun terakhir sudah tidak ada peperangan antara India dan Pakistan di wilayah tersebut.

Bukan hanya memiliki pemandangan indah dan sejarah yang sangat unik, Ghawari terkenal dengan desa yang 90% penduduknya adalah muslim sunni, sangat berbanding terbalik dengan Skardu yang mayoritas penduduknya 95% menganut aliran syiah,mengingat jarak antara kota skardu dengan desa ini tidak cukup jauh.

Dakwah sunni di kota tersebut berawal pada tahun 1900 an ketika seorang bernama Muhammad Musa yang memiliki aqidah ahlul hadist mendatangi tempat tersebut untuk berdakwah.

Di kota tersebut terdapat sebuah madrasah yang sangat unik, yaitu madrasah Darul Ulum Baltistan, meskipun pemerintah Pakistan tidak mengakui ijazah madrasah tersebut,justru negara negara lain mengakui kualitas madrasah tersebut, bahkan sebelum kebijakan pemerintah Saudi berubah, dulu lebih dari 50% alumni madrasah tersebut selalu bisa melanjutkan jengang perkuliahan di Universitas Islam Madinah, kini hanya 3-5 alumni mereka yang bisa melanjutkan jenjang kuliah di negara tersebut, ya masih cukup bagus setidaknya dakwah sunni di tempat tersebut masih akan berlanjut.

Sebelum madrasah Darul Ulum menjadi salah satu tonggak dakwah sunni di wilayah Baltistan, dulu madrasah tersebut berawal dari 1 rumah yang di jadikan sebagai tempat mengaji saja, karna semakin banyaknya murid yang datang dari wilayah lain maka madrasah tersebut resmi di bangun.

Jika di indonesia sistem madrasah mayoritas sudah menggunakan sistem modern, seperti penggunaan kursi dls, madrasah Darul Ulum masih benar benar menjaga tradisi pembelajaran mereka,ya sistem yang mereka gunakan masih sama dengan sistem halaqoh ilmiyah yang ada di masjid masjid pada umumnya, seorang guru duduk di tengah tengah dan di kelilingi oleh murid yang ingin belajar.

Pembelajaran di madrasah tersebut di bagi menjadi 2 bagian, pertama adalah pembelajaran Sains dan kedua pembelajaran agama, jika mengambil jurusan Sains maka mereka tidak di tuntut untuk terlalu fokus dalam belajar agama begitu juga sebaliknya.

Madrasah ini sangat memikirkan kualitas pendidikan dan mental bagi santri santrinya, hal tersebut bisa di lihat dari sistem pembagian asrama yang ada,asrama di madrasah tersebut di bagi menjadi 3, yang pertama bagi santri secara umum (non yatim dan non penghafal al-Qur’an), yang kedua adalah santri yang di khususkan untuk menghafal al-Qur’an dan terakhir asrama khusus bagi santri yatim piatu.

Sistem yang mereka terapkan bukanlah tanpa alasan,karna setiap asrama memiliki jadwal yang berbeda beda,seperti contohnya di kelas tahfidz, mereka di bangunkan lebih awal yaitu beberapa jam sebelum sholat subuh dan mewajibkan mereka untuk tidur tepat jam 11.00 siang untuk menjaga kualitas tidurnya, hal ini di lakukan demi menjaga fokus santri yang melanjutkan jenjang pendidikan di madrasah tersebut.

Untuk asrama yatim mereka mendapatkan perhatian lebih dari guru guru mereka,hal ini di lakukan untuk menjaga mental dan psikis santri agar tidak merasakan perbedaan yang cukup siknifikan,dan mempermudah penyaluran shodaqoh untuk santri santri yatim tersebut.

Karna dukungan dan komitmen dari warga setempat untuk menjaga dakwah ahlussunnah di kota tersebut,yayasan pengelola madrasah juga mengelola lebih dari 50 hektar lahan untuk mengidupi madrasah tersebut, bagungan hotel di beberapa lahan strategis dengan pemandangan yang indah,kebun apel,appricot,cherry dan buah buahan lain yang bisa di beli dengan memetiknya secara langsung dan beberapa aset penting lainnya.

Ya pada dasarnya segala kebaikan apapun jika tanpa dukungan dari sekitar tiada artinya, dan desa ini menjadi bukti bahwa di balik provinsi yang hitam itu ada secercah harapan terang yang akan selalu bersinar selamanya.

Admin 2

Recent Posts

Pakistan dan Simbol Toleransi Umat Beragama.

Pakistan merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia dengan presentasi 97% dari warga…

5 days ago

Revolusi Islam Iran dan Ikhwanul Muslimin

Beberapa tahun setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, tepatnya pada 1928, Hasan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin di…

3 weeks ago

Bagaimana Ibnu Sina Membuktikan Eksistensi jiwa secara Rasional.

Dialektika substansi manusia. sejak awal peradaban, manusia selalu memandang dirinya sendiri dengan penuh rasa keingin…

2 months ago

PPMI Pakistan Kirim Delegasi dalam International Model OIC Pakistan Summit 2025 di Islamabad

Islamabad, Pakistan — Perhimpunan Pelajar dan MahasiswaIndonesia (PPMI) Pakistan mengirimkan delegasi untukberpartisipasi dalam International MOIC…

2 months ago

Tafsir Sebagai Alat Legitimasi Perempuan

Salah satu keyakinan yang berkembang di masyarakat bahwa Siti Hawa berasal dari tulang rusuk Nabi…

2 months ago

Prabowo terima Penghargaan Bintang Tertinggi Nishan-e-Pakistan.

Islamabad– Presiden Prabowo Subianto menerima penghargaan sipil tertinggi Pakistan, Nishan-e-Pakistan, dari Presiden Asif Ali Zardari…

2 months ago