Hari Selasa, 11 November 2025 terjadi sebuah ledakan yang disebabkan oleh bomb bunuh diri yang menargetkan kantor Peradilan setempat, tepatnya di sektor G-11 Islamabad, Pakistan. Meskipun belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengutuk serangan tersebut, melabelinya sebagai serangan teroris pengecut yang didalangi oleh kelompok teroris yang didukung oleh India. Meski demikian investigasi oleh pihak berwajib sedang dilakukan, untuk mencari bukti adanya keterkaitan Afghanistan ataupun India.
Karena terbatasnya informasi lebih lanjut atas peristiwa tersebut saya memutuskan untuk bertanya kepada salah satu rekan saya di kelas. Menurut pandangan rekan saya ada dua kemungkinan dalang dibalik ledakan tersebut. kemungkinan pertama, ledakan tersebut didalangi oleh TTP (Tehrik Taliban Pakistan) yang saat ini telah memperluas pengaruhnya dari kawasan Khyber Pakhtunkhwa ke kota lain yaitu Islamabad. Serangan tersebut dapat diartikan juga sebagai serangan simbolik untuk mengguncang status kota paling aman di Pakistan.
Kemungkinan ke dua, ledakan tersebut justru didalangi oleh pemerintah Pakistan sendiri, insiden itu bisa jadi merupakan upaya pemerintah Pakistan dalam mengalihkan fokus publik dari isu domestik. Terlebih pemerintah Pakistan telah mengesahkan amandemen ke-27 yang dikabarkan mengangkat Jenderal Asim Munir menjadi Chief of Army Staff seumur hidup. Menurut rekan saya insiden ledakan tersebut bisa jadi sebuah distraksi politik, sebuah cara untuk menggiring opini dan perhatian masyarakat dari situasi domestik yang sedang memanas.
Kemungkinan ke dua ini menarik menurut saya, karena menyoroti krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, sebuah fenomena yang juga kerap terjadi di Indonesia. Masyarakat kedua negara cenderung curiga ketika pemerintah hendak mengambil keptusan besar atau kebijakan strategis, terutama ketika langkah tersebut berpotensi menutupi isu sensitif yang tengah berkembang.
Saya juga sempat bertanya mengenai dampak dari peristiwa tersebut. Menurut analisa rekan saya, ledakan itu tampaknya tidak memiliki keterkaitan langsung dengan India maupun Afghanistan. Namun India mungkin memanfaatkan ketidakstabilan politik dan keamanan di Pakistan, bukan dengan menyerang secara langsung, melainkan dengan mengeksploitasi situasi tersebut, misalnya dengan mendukung kelompok-kelompok anti pemerintah yang kecewa dengan kebijakan Islamabad.
Menurut analisis saya pribadi, apa yang diungkapkan oleh rekan saya tadi cukup menarik, karena moyoroti aspek yang sering kali terlewatkan, yakni ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah. Meskipun tidak ada bukti secara empiris yang membenarkan bahwa pemerintah terlibat dalam insiden ini, pandangan tersebut tetap relevan untuk dianalisis karena mencerminkan pola relasi antara negara dan masyarakat yang juga dapat ditemukan di konteks Indonesia. Dengan kata lain, cara pandang ini membuka ruang refleksi tentang bagaimana kepercayaan publik berperan dalam stabilitas politik dan keamanan suatu negara.









