Dialektika substansi manusia.
sejak awal peradaban, manusia selalu memandang dirinya sendiri dengan penuh rasa keingin tahuan. Rasa penasaran terhadap hakikat “aku” yang selalu mereka ucapkan untuk menjelaskan diri melahirkan pertanyaan fundamental “siapakah sebenarnya aku ini?” dari pertanyaan tersebutlah, mulai berkembang dialektika dari para tokoh filsafat dalam menetapkan substansi manusia. Dimulai dari tokoh matrelialisme Yunani kuno, yaitu Epikuros yang berpendapat bahwa substansi manusia adalah materi yang terdiri dari Kumpulan atom. Sebagian lain mengatakan substansi manusia adalah darah, karena tanpa darah manusia tidak bisa hidup, seperti yang dikatakan empodocles. Namun, Anaximenes dari kaum stoa berpendapat bahwa nafas dan udaralah sebagai substansi manusia. Terlepas perbedaan tersebut, mereka bersepakat bahwa substansi manusia merujuk kepada bagian dari tubuh yang bermateri.
Namun jawaban tersebut tidak membuat puas semua kalangan. Maka mulailah muncul golongan yang meyakini bahwa substansi manusia bukan pada fisik, melainkan metafisik yang menggerakan tubuh fisik ini. Mereka meyakini, jika manusia hanya terdiri dari Kumpulan materi, maka sejatinya tak ada pembeda antara mereka dengan hewan, dan kreativitas akal serta nilai-nilai moral yang selama ini membentuk Masyarakat utopis hanyalah ilusi belaka. Dan sosok metafisik tersebut dikenal dengan nama Jiwa. Tokoh golongan tersebut dipelopori oleh Plato yang mengatakan “manusia terdiri dari dua, materi yaitu tubuh dan inmateri yaitu jiwa. Dan Ketika tubuh hancur dalam kematian, jiwa tetap abadi.” Di era setelahnya, Aristoteles merekontruksi pandangan tersebut dengan mengatakan bahwa jiwa menyatu dengan tubuh sabagai satu kesatuan, dimana hubungan keduanya bersifat esensial, sehingga jika tubuh hancur,jiwapun akan lenyap. Tak hanya peradaban barat, peradaban timur juga tak mau tertinggal dalam menggali hakikat substansi manusia. Seperti di india, dalam filsafat hindu, jiwa yang dikenal dengan sebutan atman merupakan manifestasi dari potongan dzat brahma, lahir ke kedunia dengan menjadikan tubuh sebagai wadah/upadi untuk memperoleh pengetahuan, dan akan Kembali kepada brahma (moksa) setelah hancurnya tubuh dalam kematian.
Ketika kita sedang meromantisasi Sejarah peradaban manusia dalam mencari hakikat dirinya, maka kita tidak bisa mengabaikan peran peradaban Islam. Mau tidak mau, tinta emas Sejarah telah mencatat bahwa peradaban islam pernah menjadi pusat keilmuan dunia selama berabad-abad. Salah satu filsuf muslim yang turut andil mengembangkan teori rumusan jiwa adalah Ibnu sina, seorang filusuf, dokter dan cendekiawan muslim di abad 10 M yang mencoba membuktikan eksistensi Jiwa secara rasional. Tak hanya disitu, beliau juga berargumen dengan dalil Qur’an dan hadist dalam menetapkan bahwa Manusia tidak hanya terdiri dari Kumpulan materi, namun ada substansi inmateri sebagai sumber kehidupan.
Antara identitas yang statis, dan tubuh yang dinamis.
Abu ali ibnu sina, Ketika mendengar Namanya, seakan ada dua semangat tokoh yang menyatu dalam jiwanya, yaitu Al-farabi dengan peripatetik Yunani-arabnya, dan abu bakar al razi dengan kedokterannya. Ibnu sina telah hafal alqur’an sejak umur 10 tahun. Diusianya yang masih muda, ia juga telah berhasil menyembuhkan sultan samaniah Bukhara, Nuh bin Mansyur. Sebagai imbalan, ia tidak meminta harta, namun diberi akses terhadap salah satu perpustakaan istana. Disana, ia membaca banyak buku langka terjemahan dari Persia,india, hingga Yunani. Dan dari buku Yunani itulah, beliau terispirasi dari pemikiran plato dan Aristoteles terkait konsep jiwa. Ibnu sina memadukan konsep Aristoteles yang mengatakan bahwa antara tubuh dan jiwa memiliki hubungan yang erat,karena keduanya saling mempengaruhi. Dengan konsep plato yang mengatakan bahwa hubungan keduanya bersifat accident, Karena pandangan plato lebih dekat kepada dalil akal dan wahyu yang menetapkan bahwa jiwa tidak ikut mati dengan badan dalam kematian. Dan ibnu sina mampu untuk membuktikannya dengan akal rasional maupun dalil syar’i, untuk membuktikan hubungan jiwa dan tubuh yang bersifat accident. namun, sebelum menuju pembahasan tersebut, mari terlebih dahulu kita menguraikan argumentasi rasional Ibnu sina dalam pembuktian eksistensi jiwa.
Dalam kitab ar-risalah fi ma’rifatin nafsi natiqoh wa ahwaaliha, ada 3 argumen dasar yang ibnu sina paparkan untuk membuktikan bahwa jiwa dapat dibuktikan secara rasional. Diantaranya :
1. Argumentasi yang paling menantang muncul dari pengamatan biologis, dimana anatomi tubuh manusia terdiri dari triliunan sel-sel tubuh. Dan sekitar satu persen dari triliunan sel tersebut mati setiap harinya. Seperti darah yang 24 % untuk trombosit dan leukosit 25 % mati setiap harinya dan diganti dengan sel-sel baru. Atau tulang kita setiap 10 tahun sekali mengalami perubahan secara keseluruhan. Atau usus yang setiap hari 45 % berganti. Apalagi dinding lambung yang rentan dengan radang. karena itulah manusia memerlukan makan, minum, tidur untuk mengganti bagian tubuh yang telah luruh. Oleh karena itu, manusia bila terhalang dari makan, minum, dan tidur lebih dari tiga hari, tubuhnya akan menyusut dan berkurang dengan cepat. Maka jika dikalkulasikan, tubuh manusia dalam tiga bulan telah ganti dari menjadi tubuh yang lain. Setelah mengetahui tubuh manusia yang dinamis, kita tetap merasakan diri kita adalah sama dengan diri kita di tiga bulan lalu.jika tubuh kita selalu berganti, kesadaran kita mengacu kepada apa? Dengan argumentasi inilah, ibnu sina menetapkan bahwa kesadaran manusia akan dirinya dari lahir hingga wafat dengan satu kepribadian dikenal dengan JIWA.
2. Argumentasi kedua berlandaskan kepada kesadaran moral tanggung jawab, dimana Ketika manusia dituduh melakukan sesuatu, misalnya mencuri, ia akan mengatakan aku melakukannya sebagai kesadaran penuh, bukan hanya Sebagian anggota tubuh seperti tangan, menunjukan adanya kesadaran diri murni yang terlepas dari tubuh, dan kita sebut sebagai jiwa. Karena subjek tamggung jawab adalah moral, sedangkan tubuh adalah pelaksana saja.
3. Argumentasi ketiga adalah pusat kesadaran Tunggal. Manusia terdiri dari banyak anatomi tubuh dengan masing masing perannya. Mulai dari mata yang melihat, telinga yang mendengar, hidung bernafas, hati menyalurkan darah, jantung memompanya, paru-paru mengambil oksigen dan membuang karbondioksida, hingga ginjal menyaring darah, tangan mengambil dan memegang, kaki berjalan dan masih banyak lagi. Kesemua organ memiliki peran yang berbeda, namun menyatu dalam harmoni yang membentuk kehidupan kita. Maka proses penyatuan ini membutuhkan satu substansi yang mengharmonisasi semua fungsi organ ini, sebagai komando. Dan tentu substansi tersebut tidak bisa dari bagian tubuh juga, karena substansi tubuh yang selalu berubah, sedangkan penyatuan harmoni ini harus bersifat tetap, yang kita kenal sebagai jiwa.
Selanjutnya, Ibnu sina membawa ayat Qur’an surah Sad ayat 72 untuk menjelaskan bahwa substansi jiwa pada kehidupan manusia tidak hanya diterima akal, namun juga wahyu :
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي
Ibnu sina menjabarkan bahwa maksud dari التسوية disini adalah penyempurnaan tubuh manusia hingga bisa dihubungkan dengan jiwa rasional. Dan penisbatan ruh terhadap Allah swt. Menunjukan sifat jiwa ini tidak bersifat materi, karena allah swt tidak bersifat materi.
Dan surah al fajr ayat 27-30 yang menjelaskan proses meninggalkannya jiwa dari tubuh, menandakan kematian. Semakin memperkuat bahwa manusia tidak hanya terdiri dari Kumpulan materi, namun ada jiwa sebagai substansi manusia itu sendiri.
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
Jiwa yang kekal & Raga yang fana.
Telah disinggung sebelumnya, bahwa Ibnu sina mengamini pandangan plato terkait hubungan jiwa dan badan yang bersifat accident, dimana Ketika hubungan tersebut hilang dikarenakan fananya badan, tidak mengharuskan ikut hancurnya jiwa. Dalam risalah yang sama, ibnu sina mengatakan bahwa substansi jiwa lebih kuat dari substansi tubuh, dengan tiga argument diatas cukup sebagai bukti. Maka tidak masuk akal, sebuah substansi yang lebih kuat yaitu jiwa, ikut hancur dengan badan yang lebih lemah darinya. Dan hubungan keduanya adalah hubungan kepemilikan, seperti orang yang memiliki mobil. Ketika kepemilikan mobil dari orang tersebut hilang karena hancurnya mobil tersebut, tidak membuat orang tersebut ikut mati. Dan hal tersebut berlaku kepada jiwa.
Ibnu sina bahkan memberi contoh bahwa manusia Ketika semasa hidupnya, telah berulang kali melewati semi kematian yang disebut sebagai tidur. Nabi saw bersabda : النوم أخو الموت dan biologi telah menjelaskan bahwa Ketika tidur, Sebagian besar organ manusia pasif, tidak beroprasi. Sedangkan organ dalam hanya melambat, menunjukan bahwa tidur memang semi kematian. Namun, ditengah semi kematian ini, kadang manusia tetap memiliki pengalaman subyektif yang kaya dalam mimpi. Ia melihat dengan jelas, mendengar, berbicara, mengambil,bahkan lari dll yang mana didunia nyata organ-organ dari fungsi tersebut sedang tidak beroprasi. Jika kesadaran sepenuhnya bergantung kepada tubuh, seharusnya kondisi tersebut mustahil. Dan jika jiwa ikut mati Ketika badan mati, maka seharusnya manusia tidak memiliki kesadaran apapun dalam mimpi.
Jiwa yang mempengaruhi tubuh.
Ada dua kisah pengalaman medis dan bedah anatomi yang dilakukan oleh ibnu sina dan kedua kisah tersebut semakin menguatkan keberadaan jiwa yang di ingkari oleh kaum matrelialis. Kisah pertama adalah ada seorang pemuda yang sakit keras. Seluruh tabib tersohor di daerah tersebut telah berusaha menyembuhkannya, namun mereka gagal menemukan penyebab penyakit tersebut. Maka dipanggilah ibnu sina. Kemudian ia memeriksa denyut nadi pemuda tersebut sambil menyebut nama tempat, keluarga dan sekitarnya setelah diberitahu kerabat sang pemuda. Namun, Ketika ibnu sina menyebutkan salah satu nama Perempuan tertentu, denyut nadi pemuda tersebut berdebar bgitu cepat. Dari sini, ibnu sina menyimpulakan bahwa penyakit fisik yang dialami si pemuda berasal dari jiwanya yang memendam cinta yang tak tersampaikan, hingga menyakitinya.ibnu sina pun menyarankan sang orang tua untuk menikahinya. Setelah dinikahkan, keadaan si pemuda membaik.
Dikisah lain, Ibnu sina mengadakan eksperimen dua domba yang ia taruh di dua tempat yang berbeda. Satu di kendang biasa. Satu dikandang yang berhadapan langsung dengan kendang serigala, hingga sidomba dapat melihatnya setiap hari. Ibnu sina memberi porsi makan yang sama untuk keduanya. Dan Ketika beliau membedah anatomi kedua domba tersebut, beliau mendapati anatomi tubuh dari domba kedua lebih buruk dari domba pertama.
Dari kisah pertama dan kedua, kita menyimpulkan bahwa jiwa yang memendam energi emosi yang begitu besar, akan tidak berdaya hingga berpengaruh pada Kesehatan tubuh. Kisah pertama memendam emosi cinta yang tak tersampaikan, di kisah kedua memendam rasa takut yang terus menghantui. Dan keduanya mempengaruhi Kesehatan tubuh. Maka jika kita menggunakan logika kaum matrelialism yang mengingkari jiwa, maka dari mana kita dapati penyebab rasa sakit dari dua kisah diatas ?
Refrensi
Ar-risalah fi ma’rifati nafsi naatiqoh li abi ali Ibn sina.
An-nafsu min kitab syifa li abi ali ibn sina.
The columnist-filsafat jiwa perspekti ibn sina : Brian Ariawan S.
Nuonline-Kisah Ibn sina sembuhkan pasien dengan menganjurkannya segera menikah : Muhammad Ishom.
Pakistan merupakan negara multikultural dengan ragam budaya dan corak diversitas kepercayaan spiritual yang unik dengan…
Pakistan merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia dengan presentasi 97% dari warga…
Beberapa tahun setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, tepatnya pada 1928, Hasan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin di…
Islamabad, Pakistan — Perhimpunan Pelajar dan MahasiswaIndonesia (PPMI) Pakistan mengirimkan delegasi untukberpartisipasi dalam International MOIC…
Salah satu keyakinan yang berkembang di masyarakat bahwa Siti Hawa berasal dari tulang rusuk Nabi…
Islamabad– Presiden Prabowo Subianto menerima penghargaan sipil tertinggi Pakistan, Nishan-e-Pakistan, dari Presiden Asif Ali Zardari…