Revolusi Islam Iran dan Ikhwanul Muslimin

Zydan Raura, BS Islamic Studies

Beberapa tahun setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, tepatnya pada 1928, Hasan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Sejak awal, ia tidak memandang Islam sekadar sebagai agama ritual saja, tetapi sebagai sistem hidup yang mencakup negara, hukum, dan politik. Ia berpendapat bahwa Islam harus berfungsi sebagai ideologi politik. Pandangan ini kemudian diperkuat sekaligus “dipertajam” oleh Sayyid Qutb, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam Ikhwanul Muslimin pasca-wafatnya al-Banna.

Namun, terdapat perbedaan mendasar antara al-Banna dan Qutb. Al-Banna menganut pendekatan gradualis: membangun individu Muslim yang baik, keluarga Muslim yang baik, lalu masyarakat Muslim yang baik, hingga akhirnya negara terislamisasi secara alami. Sebaliknya, Qutb menganut pendekatan revolusioner: negara harus terlebih dahulu direbut dan diislamkan dari atas ke bawah.

Di dalam buku Ma’alim fi ath-Thariq karya Sayyid Qutb, ia menyatakan, “Keunggulan peradaban Muslim atas Barat, dan perlunya Islam untuk menguasai seluruh umat manusia. Islam mempunyai tugas untuk memastikan kekuasaan Tuhan untuk alam semesta dihormati. Pemerintahan ini hanya dapat berlaku di bawah naungan rezim Islam yang didirikan oleh Allah untuk kepentingan seluruh umat manusia,” tulisnya.

Pemikiran Qutb tidak hanya berpengaruh di dunia Sunni, tetapi juga menembus Iran yang mayoritas Syiah. Hampir seluruh karya Qutb diterjemahkan ke dalam bahasa Persia dan beredar luas menjelang Revolusi Iran 1979. Salah satu jalur utama transmisi ideologi Ikhwan ke Iran adalah melalui Navvab Safavi, pendiri kelompok Fada’iyan-e Islam.

Pasca perang Arab-Israel pertama, pada tahun 1953, Ikhwanul Muslimin mengorganisasi sebuah konferensi Islam di Yerusalem yang menyatukan kecenderungan politik untuk menentang keberadaan negara Yahudi. Dalam konferensi ini ditegaskan juga bahwa masalah Palestina bukanlah masalah regional semata, melainkan masalah utama bagi seluruh dunia Islam. Di antara para tamu yang hadir adalah Navvab Safavi, pendiri Fada’iyan-e Islam, sebuah organisasi fundamentalis Syiah yang menginginkan pemerintahan Islam di Iran.

Pada 1954, Safavi diundang ke Kairo oleh Ikhwanul Muslimin dan bertemu langsung dengan Sayyid Qutb. Pada saat itu, Ikhwanul Muslimin ingin mendekatkan diri dengan aliran Islam lainnya. Terlepas dari pertentangan teologis, Ikhwanul Muslimin dan Fada’iyan-e Islam memiliki beberapa cara pandang yang sama; anti-kolonialisme Barat dan Islam sebagai ideologi politik.

Kelompok ini menjadi pionir gagasan negara Islam di Iran jauh sebelum Khomeini. Fada’iyan-e Islam melakukan serangkaian pembunuhan politik terhadap tokoh-tokoh sekuler dan pejabat negara, mirip dengan metode Ikhwan di Mesir. Pada 1956, Safavi dituduh terlibat dalam upaya pembunuhan Perdana Menteri Iran saat itu, Hossein Ala’.Navvab Safavi dieksekusi mati oleh rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi pada 18 Januari 1956. Meskipun Safavi tidak meninggalkan banyak karya tulis, pengaruhnya besar dalam penyebaran pemikiran Qutb di Iran. Warisan ideologisnya tetap hidup di kalangan revolusioner Iran; beberapa tahun kemudian, pengikutnya menemukan pemimpin baru dalam diri Ayatullah Khomeini.

Pra-Revolusi Iran 1979, ide-ide Ikhwanul Muslimin sudah banyak tersebar di kalangan masyarakat, yang paling menonjol di antaranya adalah karya-karya Sayyid Qutb. Orang yang berperan besar dalam menerjemahkan buku Qutb adalah Ali Khamenei, meskipun berbeda aliran, ia sangat terpengaruh oleh pemikiran Qutb. Khamenei menerjemahkan beberapa karya utama Sayyid Qutb ke dalam bahasa Persia.

Pengaruh intelektual Sayyid Qutb sangat besar terhadap generasi Islamis yang memimpin Revolusi Islam di Iran. Pasca-revolusi, pemerintah bahkan menerbitkan prangko resmi bergambar Sayyid Qutb sebagai bentuk penghormatan atas pengaruh pemikirannya terhadap Revolusi Islam.

Pada akhirnya, meskipun berbeda mazhab, Revolusi Islam Iran dapat dipahami sebagai realisasi Syiah dari proyek Islam politik yang sebelumnya dirumuskan oleh kalangan Sunni Ikhwanul Muslimin. Ironisnya, hubungan keduanya kemudian memburuk akibat konflik sektarian dan geopolitik. Namun secara historis, tidak dapat disangkal bahwa Sayyid Qutb dan Ikhwanul Muslimin memainkan peran penting dalam membentuk fondasi ideologis Revolusi Iran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *