Pendahuluan
Praktik tasawwuf spekulatif sering kali muncul dari kesalah fahaman pelaku suluknya terhadap ajaran tasawuf klasik, yang pada gilirannya menimbulkan konsekuensi filosofis dan teologis. Salah satu sumbernya adalah kesalah fahaman terhadap konsep zuhud yang seharusnya menekankan konsep pengendalian diri dan detasemen dunia, malah difahami secara ekstrem sebagai ajakan untuk menanggalkan dunia secara utuh serta menafikan usaha terhadapnya. Begitu pula konsep qodho’ wa qodar yang banyak disalah fahami sebagai faham fatalisme yang menghancurkan independensi dan tanggung jawab manusia dengan berlindung dibalik nama takdir. Dua kesalah fahaman sebelumnya jika dibiarkan dapat berevolusi secara radikal menjelma sebagai filsafat pantheisme, yaitu faham yang merusak distingsi ontologis antara tuhan dan makhluq yang sejak lama telah dijaga oleh tradisi ortodoksi islam. Maka tak heran jika beberapa kalangan mengkambing hitamkan ajaran sufi klasik sebagai penyebab kemunduran umat islam. Namun sejatinya, apakah benar tasawuf sebagai sebab utama kemunduran umat ? tentu saja tidak, karena pengkambing hitaman tersebut berangkat dari pengamatan dangkal terhadap praktik-praktik menyimpang tasawuf spekulatif yang dilakukan oleh Sebagian oknum, tanpa mengkaji secara holistik hakekat tasawuf beserta ajaran yang dibawa oleh para sufi terdahulu.
Dalam konteks modern, alama Iqbal melakukan kritik terhadap praktik praktik semacam ini melalui idenya yang dikenal dengan “rekrontuksi pemikiran islam, yang banyak terinspirasi dari filsafat wujud Mulla sadra. Iqbal menekankan bahwa peran aktif manusia (khudi) dalam mengembangkan diri dan menata dunia, sehingga menolak fatalism pasif maupun pantheisme radikal. Kritik Iqbal menegaskan keseimbangan antara kesadaran spiritual, tanggung jawab manusia dan pemahaman yang benar terhadap ajaran tasawuf klasik.
Mengenal Iqbal lebih dalam
diantara Lorong Panjang timur, terdapat nama yang menjulang seperti obor ditengah malam. : alama Iqbal, sang pembingkai jiwa yang yang ingin membangunkan peradaban umat muslim untuk Kembali merefleksikan “siapa sebenarnya mereka ?” sosok yang dikenal dengan syair-syairnya yang menggugah umat untuk tidak terus berbaring diatas ranjang pemahaman teks yang statis.
Di abad 20. Ditanah Hindustan, yang saat itu masih dibawah kolonialisasi inggris, pada tanggal 19 november 1877 di sialkot lahirlah Muhammad Iqbal, sosok besar yang kelak terus berfikir dan mencari sebab utama kemandekan peradaban umat muslim di era revolusi industri bangsa eropa. Iqbal muda mengenyam Pendidikan tinggi di government college Lahore, bertemu sir tomas Arnold yang membawa nya ke Cambridge untuk mengenyam Pendidikan master di bidang filsafat pada tahun 1899. Dan pada tahun 1905, di kampus yang sama, Muhammad Iqbal meneruskan study filsafatnya di strata doctoral dengan fokus pembahasan tasawuf. Namun, tahun 1907 beliau pindah dan melanjutkan studinya di Munich trinity college, jerman barat dan memperoleh gelar doktor di bidang tasawuf dengan desertasinya yang berjudul “the development of metaphisyc in Persia”. selama penulisan desertasinyalah, alama Iqbal banyak terpengaruh dari filsafat wujud mulla sadra asal Persia yang menetapkan konsep harakah al jawhariyah/substansi yang terus berkembang menuju kesempurnaan wujud, mendukung gagasan Iqbal bahwa manusia yang merupakan bagian dari substansi alam, tidak boleh berpaku tangan pada pemahaman statis terhadap nash syariah dan pasrah akan kehidupan dengan berlindung dibalik nama takdir yang mereka salah fahami.
Mistisisme yang Menidurkan Bangsa: Mengapa Iqbal Menggugat Tasawuf spekulatif di hindustan?
Dalam pemikiran iqbal “rekrontuksi pemikiran islam”, salah satu ciri khasnya yang melekat adalah Iqbal mencoba memadukan teologi, syariah dan tasawuf dengan filsafat dan ilmu sosial. Hal ini berangkat dari keresahannya terhadap keadaan umat muslim hindustan dikala itu sedang Hilang arah. dan keterombang ambingan umat muslim bersumber dari dua sebab utama : kehilangan kekuasaan politik setelah runtuhnya Mughal, dan kolonialisasi inggris di abad tersebut.
Para sejahrawan seperti Aziz ahmad dalam bukunya Studies in Islamic Culture in The Indian Environment menyatakan bahwa banyak Masyarakat muslim di Hindustan yang :
- Lebih percaya dukun spiritual dan wali lokal dari pada Pendidikan.
- Mendatangi dargah (makam suci ) untuk mencari keberuntungan.
- Bekerja sedikit lalu berharap berkah dari para wali yang masih hidup maupun yang sudah meninggal yang mereka usahakan melalui tawasul di dargah-dargah ajmer sharif dan nizhamuddin delhi.
Di sumber Sejarah lain, Wilfred Cantwell Smith, Modern Islam in India menyebutkan bahwa di sejumlah khanaqah (markas besar sufi) di Punjab tersebar ucapan yang terkenal “britania datang karena kehendak allah swt. Melawan berarti menentang takdir.” Bahkan Sebagian mursyid lokal ada yang mengajarkan “penjajah adalah cambuk tuhan, maka terimalah!”
Di khanaqah yang sama pula, Sebagian oknum mendistorsi konsep wihdatul wujud ibn arabi menjadi wihdatul mawjud yang mengatakan “semua eksistensi alam adalah tuhan itu sendiri.” Ajaran keliru ini melahirkan keyakinan “Kemiskinan adalah manifestasi Tuhan — terimalah sebagai bagian dari kehendak-Nya.”
Tentu, penyelewengan tasawuf spekulatif tersebut bukan murni dating dari ajaran tasawuf asli, karena sufi sejati tidak pernah merampas independensi manusia di dunia. Tasawuf hakiki juga tidak pernah mengajarkan bahwa tuhan satu wujud dengan alam. Maka sejatinya, penyelewengan inilah yang Iqbal gugat dalam rekrontuksi pemikiran islamnya, bukan tasawuf secara mutlak. Karena sebagaimana kita ketahui, Iqbal juga seorang sufi. Namun tasawuf yang ia kampanyekan bersifat spiritualis-aktif, bukan fatalis-pasif.
Iqbal memetakan Batasan tasawuf dan realitas
Tasawuf telah menjadi jalan spiritual umat muslim untuk mengenal dan merasakan lebih dalam kehadiran rabnya. Namun, alama Iqbal melihat bahaya yang tersembunyi dibalik keheningan kontemplasi statis tanpa aksi. Melalui bukunya, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, pengalaman spiritual tanpa kontribusi di realita tidak lagi relevan di zaman modern.
Iqbal tidak mencoba merusak apa yang dibawa para sufi. Ia hanya mencoba mempertahankan kedalaman nilai spiritual sambil menyesuaikannya dengan tantangan realita modern.
Iqbal menegaskan
“The Qur’an is a book which emphasizes ‘deed’ rather than ‘idea’. There are, however, men to whom it is not possible organically to assimilate an alien universe by re-living, as a vital process, that special type of inner experience on which religious faith ultimately rests.”
Dalam kutipan ini, Iqbal menekankan satu hal penting :
Islam mengedepankan kontribusi nyata sebagai ekspresi iman, bukan hanya sekedar pengalaman batin atau gagasan filosofis yang mencoba menerka wujud tuhan,alam, dan manusia secara metafisik dengan menggunakan konsep abstrak seperti emanasi, wihdatul mawjud,dll. Penekanan Iqbal terhadap kontribusi nyata di dunia selaras dengan sabda nabi Muhammad saw yang memuji orang yang berkerja mandiri dan tak bergantung kepada orang lain.
لأن يحبط أحدكم حرمة على ظهره خير له من أن يسأل أحدا فيعطيه أو يمنعه
Sungguh jika seorang diantara kalian mengambil kayu bakar, lalu memikulnya di punggungnya, (untuk dijual) lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada seseorang, baik diberi ataupun tidak.
Dalam kutipan tersebut Iqbal juga mencoba menyindir Sebagian para pelaku oknum mursyid yang membawa embel-embel nama besar sufi di khanaqah Punjab, karena menyebarkan faham fatalisme dibalik nama takdir untuk tunduk menerima realita bahwa mereka terjajah karena kehendak tuhan. Iqbal tidak menolak takdir, ia mengimani segala sesuatu telah allah swt. Kadarkan di lauh mahfuzh. Namun ia juga faham bahwa allah memerintahkan hambanya untuk terus berusaha dan beramal untuk merubah nasibnya, karena taqdir merupakan rahasia tuhan. Allah swt berfirman dalam surah ar-ra’ad ayat 13
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Dalam lanjutan kutipan tersebut di sumber aslinya, Iqbal juga menegaskan terlalu radikal dalam bersandar pada pengalaman batin menimbulkan kecurigaan Masyarakat modern yang terbiasa menggunakan logika hingga menuduhnya sebagai sebuah ilusi belaka.
Iqbal juga berkata dalam bukunya :
“The more genuine schools of Sufism have, no doubt, done good work in shaping and directing the evolution of religious experience in Islam; but their latter-day representatives … have become absolutely incapable of receiving any fresh inspiration from modern thought and experience. They are perpetuating methods which were created for generations possessing a cultural outlook differing, in important respects, from our own.”
Dalam kutipan tersebut, Iqbal mencoba mengajak untuk merevitalisasi sufisme melalui rekrontuksi spiritual yang memadukan kontemplasi, Tindakan nyata, dan rasio. Bagi Iqbal, meskipun tradisi tasawuf pernah berhasil membentuk pengalaman religius yang nyata, di era modern hal tersebut tidak lagi relevan, apabila para sufi hanya pasif pada perjalanan spiritual tanpa aksi nyata di kehidupan dan eksklusif dari pemikiran modernis yang mengajak mereka untuk maju.
Khudi, sebagai entitas spiritual manusia yang progresif untuk berkreasi di muka bumi
Iqbal banyak terpengaruh oleh filsafat wujud yang dikomersilkan oleh mulla sadra. Dan salah satu yang sangat mempengaruhinya adalah konsep al harakah al jauhariyah yang secara sederhana difahami sebagai sebuah konsep yang menjelaskan bahwa substansi itu selalu bergerak, dan berubah secara inheren. Gerak adalah sifat hakiki eksistensi. Konsep ini diadopsi Iqbal untuk menjelaskan proses penciptaan tuhan terhadap alam semesta dan manusia yang tidak statis, melainkan bertahap dan berkembang. Iqbal memberikan tafsiran surah ar-rahman ayat 29 bahwa allah swt menciptakan alam semesta tahap demi tahap. Hal ini senada dengan surah al insyiqaq ayat 19 bahwa manusia diciptakan juga secara bertahap mulai dari nutfah, alaqah, hingga mudghah, kemudia dimasukan ruh, kemudian terlahir kedunia.
Dengan alas pikir ini Iqbal menekankan kepada umat muslim untuk mencoba merefleksikan proses penciptaan asal muasal mereka yang bertahap, untuk diaplikasikan kepada pola pikir mereka agar dinamis, atau terus berkembang menatap kedepan, tidak statis atau diam ditempat. Kemunduran umat muslim karena mereka kehilangan khudi atau ego/kepercayaan diri yang seharusnya membuat manusia aktif menjalankan Amanah sebagai khalifah atau mitra tuhan dalam berkreasi menjaga kestabilan bumi ini. Bagi Iqbal, salah memahami konsep zuhud sebagai ajakan agama untuk meninggalkan dunia, berdalih dengan keyakinan semua sudah ditakdirkan yang menjerumuskan pada faham fatalism, hingga mencukupkan diri pada perjalanan spiritual sepanjang hidup merupakan bentuk pengkhianatan manusia terhadap amanah tuhan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Dan bagi Iqbal, ketiga hal tersebut merupakan sebab utama terlelapnya peradaban islam di abad 20.
Refrensi :
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam.
Muh.ilham usman, Jurnal pemikiran qur’an dan hadist dan pemikiran islam PAHAM NEO-PLATONIS DAN NEGARA KESEJAHTERAAN: KRITIK MUHAMMAD IQBAL TERHADAP KESADARAN UMAT ISLAM.
Agus anwar pahutar dan Saifullah SA rusydi MA : Rekrontuksi pemikiran Muhammad Iqbal.
Aziz ahmad, Studies in Islamic Culture in The Indian Environment.









